Baduy Trip ( 2D 1N)

Suku Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sub etnis sunda  yang berada di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Banten,
sedangkan untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka menggunakan Bahasa Indonesia. Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yaitu suku Baduy Dalam dan Baduy Luar, Suku Baduy Dalam mempunyai beberapa peraturan yang harus ditaati antara lain:
-  tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan sebagai sarana transportasi;
-  tidak diperbolekhan menggunakan alas kaki;
-  tidak diperbolehkan menggunakan teknologi ; dan
- harus menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun/dijahit  sendiri ( tidak boleh menggunakan pakaian modern)
Di Baduy Dalam kita tidak diperkenankan untuk mendokumentasikan dalam bentuk apapun.

Berbeda dengan Baduy Dalam, kebudayaan di Baduy Luar sudah tercampur dengan budaya luar, masyarakat Baduy Luar sudah diperbolehkan menggunakan teknologi dan sejenisnya.

Saya mengunjungi Baduy dengan mengikuti open trip dengan biaya sebesar Rp 250.000,- selama 2 hari 1 malam dengan fasilitas sebagai berikut:
1. Homestay di Baduy Dalam
2. Tiket Kereta Stasiun Tanah Abang - Stasiun Rangkasbitung PP
3. Elf dari Stasiun Rangkasbitung - Desa Cibologer PP
4. Makan 2x (sarapan & makan malam)
5. Tiket wisata seluruh destinasi
6. Pemandu Wisata ke Baduy Dalam
7. Tour leader 
8. Dokumentasi

Beberapa perlengkapan yang harus disiapkan antara lain:
1. sepatu atau sendal gunung
2. jas hujan atau sejenisnya
3. senter
4. mantel hangat 

Berhubung  tour leader memberi informasi tentang perlengkapan yang harus disiapkan tersebut mepet banget, jadi saya hanya membawa perlengkapan seadanya, hehe.

Day - 1

Hari pertama dijadwalkan untuk berkumpul di Stasiun Tanah Abang Jam 07.00 wib, saya berangkat sekitar jam 06.00 wib dengan menggunakan ojek online. Jumlah peserta trip sekitar 30an orang, setelah seluruh peserta berkumpul, tour leader mulai mengabsen masing-masing grup dan membagikan tiket kami. Harga tiket kereta Stasiun Tanah Abang - Stasiun Rangkasbitung hanya sebesar Rp. 5000,-,  kereta yang kami naiki merupakan kereta ekonomi AC dengan posisi duduk 2 - 3 dan saling berhadapan. Seluruh peserta trip mendapatkan tiket duduk sehingga tidak ada yang berdiri. Perjalanan menuju ke Stasiun Rangkasbitung berlangsung selama 1 - 1,5 jam.

    stasiun rangkasbitung

Beralih dari Stasiun Rangkasbitung, kami selanjutnya menuju ke Desa Ciboleger dengan menggunakan elf yang disewa oleh tour laeder kami . Elf yang kami gunakan berkapasitas sekitar 15 orang dengan AC alami, hehe. Perjalanan menuju Desa Ciboleger memerlukan waktu sekitar 1-1,5 jam, dan itu cukup melelahkan karena perjalanannya lumayan jauh.

Sekitar jam 11.30  kami tiba di Desa Ciboleger, setelah itu dilanjutkan dengan ishoma dan pada pukul 13.00 wib akan dilakukan tracking menuju Desa Cibeo, Baduy Dalam, melewati perkampungan masyarakat Baduy Luar. Untuk makan siang, makanan tidak disediakan tetapi kami harus beli masing-masing di warung setempat, cuma ada beberapa warung di sini, harga makanannya pun relatif normal, hanya dengan Rp 15.000 kami sudah bisa kenyang. Kami juga masih bisa menemukan Alf*mart di sini, perlu diketahui ini adalah alf*mart terakhir yang kami temui, setelah masuk ke kampung Baduy kita tidak akan bisa menemukan alf*mart maupun ind* mart.

Setelah selesai ishoma, tour leader mulai mengabsen kehadiran masing-masing kelompok dan membagikan air mineral botol 600 ml sebagai bekal dalam perjalanan (gak dapat makan siang, dapat minum aja gpp lah, dari pd gak dpt keduanya, haha). Selain didampingi tour leader, perjalanan ke Baduy Dalam juga didampingi oleh guide setempat yang merupakan penduduk asli Baduy Dalam. Sebelum perjalanan dimulai, didahului dengan berdoa bersama sama dan tentunya berfoto dengan penduduk Baduy Dalam asli yang akan mendampingi kita, hehehe.
foto bersama seluruh peserta trip sebelum keberangkatan ke Baduy Dalam     


Perkenalkan, foto di atas adalah foto Akang Sapri, Akang Sapri merupakan penduduk suku Baduy Dalam yang paling populer dikalangan peserta trip, khususnya cewek-cewek, hahaha. Akang Sapri sukses membuat cewek-cewek gagal move on sama senyuman manisnya, yang lebih manis dari kembang gula, hahahahaha.

Perjalanan pun dimulai...

Pada saat  tracking, tour leader kami mengambil posisi paling belakang, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika ada peserta trip yang tertinggal, sedangkan suku Baduy Dalam  menyebar untuk mendampingi kami agar kami tidak tersesat dan kehilangan arah (eaaa). Jalan menuju Baduy cukup menanjak, menurun  dan berliku, kita harus meyusuri jalan setapak, perkebunan, sungai dan hutan ( kalo kata ninja hatori seperti mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra, hahaha). Jika kita tidak sanggup membawa tas/barang kita karena perjalanan yang panjang dan melelahkan, kita bisa meminta tolong untuk dibawakan oleh suku baduy yang mendampingi kita. Kita hanya perlu memberi seiklasnya saja sebagai tanda ucapan terima kasih kepada mereka.


perjalanan menuju Baduy Dalam

rumah suku Baduy Luar

Menenun adalah salah satu pekerjaan penduduk perempuan Baduy Luar

jembatan kayu

adik ini merupakan suku Baduy Dalam asli, adik ini ikut mengantarkan kami menuju Baduy Dalam

Perjalanan menuju Baduy Dalam cukup melelahkan apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa jalan jauh dan mendaki, persediaan minum kami habis dalam sekejap, tapi tenang saja meskipun di sini tidak ada alf*mart/ind*mart masih ada pedangan asongan yang mengikuti kami sampai ke Baduy Dalam, barang dagangan yang dibawa pun beragam, mulai dari minuman dingin, minuman tidak berasa dan berasa, kopi dan susu  sampai dengan p*p mie. 

Saat memasuki kawasan Baduy Luar, kami masih diperbolehkan untuk berfoto-foto, tetapi ketika memasuki area Baduy Dalam kami sudah tidak diperkenankan untuk berfoto atau mendokumentasikan dalam bentuk apapun. Waktu perjalanan yang kami tempuh untuk sampai di Baduy Dalam sekitar 4 - 5 jam dengan jarak sekitar 12 - 15 km, cukup melelahkan tapi semua lelah terbayarkan oleh suasana alam dan kearifan lokal sekitar.

Setelah sampai di Baduy Dalam kami beristirahat di homestay, homestay yang dimaksud di sini adalah rumah penduduk suku Baduy Dalam, homestay untuk cewek dan cowok dipisahkan, untuk cewek memakai rumah Akang Sapri (para cewek patah hati seketika saat mengetahui bahwa Kang Sapri sudah mempunyai istri dan anak, hihihi), sedangkan untuk cowok menggunakan rumah penduduk Baduy Dalam yang lain. Rumah suku Baduy Dalam tidak berbeda jauh dengan rumah suku Baduy Luar. Rumah di Baduy Dalam dibangun dengan mengikuti kontur tanah, hal ini dimaksudkan supaya pembangunan rumah tersebut tidak merusak alam sekitar. Pembuatan rumah dilakukan dengan gotong royong dan menggunakan bahan baku yang berasal dari alam seperti kayu dan batu kali.
  
Perlu diketahui di sini tidak ada yang namanya kamar mandi, jadi kalo ingin bersih-bersih harus di alam terbuka, untuk cowok bisa di sungai, sedangkan untuk cewek bisa menggunakan pancuran yang berasal dari mata air yang hanya berdinding semak-semak dan beratap langit. Untuk mandi di sini kami dilarang menggunakan sabun/sampo ataupun pasta gigi, tetapi masih diperbolehkan untuk menggunakan sikat gigi, hal tersebut dilakukan untuk menjaga kelestarian alam. Di sini pun tidak ada yang namanya listrik apalagi jaringan, kita benar-benar jauh dari yang namaya teknologi, jadi jangan berharap bisa yang namanya update status atau posting foto, hahaha.  Untuk penerangan di dalam rumah hanya menggunakan lilin.  Lah terus bagaimana kalo misal pas malam-malam tiba-tiba ingin ke belakang, kami hanya menggunakan senter.

Makan malam kami disiapkan oleh pemilik rumah dengan menu nasi putih+ sayur asem + ayam goreng + sambal,  bahan makanan ini merupakan hasil dari perkebunan yang ditanam sendiri oleh suku Baduy Dalam. Setelah makan malam acara dilanjutkan dengan sharing tentang kondisi kehidupan/adat istiadat di Baduy Dalam, dll. Disini Akang Sapri yang menjadi narasumber, dari cerita Akang Sapri kami mengetahui ternyata tidak semua penduduk buta dengan teknologi meskipun mereka hidup jauh dari yang namanya teknologi, beberapa diantaranya sudah mengenal  handphone bahkan  tau tentang salah satu aplikasi messangger.  Akang Sapri juga mengikuti berita-berita yang sedang happening di tanah air . Beberapa penduduk Baduy Dalam sudah memiliki ktp salah satu diantaranya adalah Kang Sapri. Penduduk Baduy Dalam juga sering diundang ke ibu kota untung sharing tentang kehidupan mereka di Baduy Dalam, dan untuk menuju ibu kota mereka harus berjalan kaki, waktu yang mereka perlukan untuk sampai ke ibu kota hanya sehari (gak bayangin deh kalo kami yang harus jalan kaki ke jakarta, tahun depan paling baru bisa nyampe, hehehe). 


Setelah sharing, kami bisa beristirahat ataupun ngobrol-ngobrol santai, untuk beristirahat kami menggunakan ruang bagian tengah, kami menggunakan tikar sebagai alas tidur karena di sini tidak ada kasur, pakaian hangat dan tebal sangat diperlukan karena udara di sini sangat dingin. Sedangkan untuk mengobrol santai, kami menggunakan teras rumah, disini kami bisa mengobrol sambil menikmati suasana malam yang bertabur bintang dan gerlap gerlipnya cahanya kunang - kunang , hahaha. Ada sedikit cerita dari Tour Leader kami, katanya jika penduduk suku Baduy Dalam kangen ingin bertemu dengan peserta trip yang pernah berkunjung ke rumahnya, maka penduduk Baduy Dalam tersebut akan datang mengunjunginya,, beneran gak ya ceritanya itu, hehe. Satu hal lagi yang perlu diingat,  jangan sampai menyinggung soal SARA kalo sedang mengobrol ya guys.

Day - 2

Sekitar jam 07.00 wib kami mulai sarapan, menu sarapan kali ini adalah nasi putih + telur dadar + sayur asem + sambal. Setelah sarapan dilanjutkan dengan briefing dan berdoa sebelum berangkat. Perjalanan menuju Desa Ciboleger dimulai jam 08.00 wib, rute yang ditempuh berbeda dengan rute saat berangkat, saat kembali ke Desa Ciboleger kami juga ditemani penduduk Baduy Dalam. Rute kami kali ini melewati sebuah jembatan akar, jembatan akar ini adalah jembatan yang terbentuk secara alami yang terbuat dari akar dengan panjang sekitar 30 m. Karena jembatan akar ini sudah berada di daerah Baduy Luar, jadi kami diperbolehkan untuk berfoto-foto di sini.
   jembatan akar

Perjalanan menuju Desa Ciboleger ini memakan waktu sekitar 4-5 jam, sekitar 1 km menuju Desa Ciboleger terdapat tukang ojek, beberapa peserta trip yang sudah tidak sanggup berjalan karena jalanan yang menanjak memutuskan untuk menggunakan ojek. Sesampainya di Desa Ciboleger, hal lain yang kami lakukan selain istirahat adalah mengaktifkan handphone masing-masing untuk melihat berapa ratus pesan yang masuk, hahaha.  

Sekitar pukul 13.00 wib, setelah seluruh peserta trip berkumpul dan elf yang menjemput kami sudah tiba, saatnya berangkat menuju stasiun rangkasbitung. Perjalanan ke stasiun rangkasbitung agak sedikit ngebut karena kami harus mengejar kereta yang berangkat pukul 15.00 wib dan kami belum juga mendapatkan tiket keretanya. Beruntunglah kami masih bisa mengejar kereta tersebut walaupun kami harus berdiri  karena kehabisan tiket yang duduk.

Dengan demikian berakhirlah perjalanan kami di Baduy Dalam, sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan dimana kami diajarkan untuk selalu menjaga kelestarian alam dan hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan, sebuah pengalaman dimana ternyata kami dapat bertahan hidup walaupun jauh dari yang namanya teknologi terutama gadget meskipun hanya dalam sehari, hehe. 

Beberapa bulan kemudian.......... 

Salah seorang peserta trip memberi kabar jika dia dihubungi oleh Kang Sapri melalui sebuah pesan di aplikasi messenger,  Akang Sapri berniat untuk berkunjung dan bertamu ke rumahnya, (btw gimana caranya Kang Sapri bisa tau nomer hp nya ya,, kira2 siapa yang ngasih tau ya, hehe)







Komentar

Posting Komentar