Backpacker Yogyakarta (4D 3N)



Setelah sebelumnya menulis tentang Backpaker Yogyakarta (3D 2N), kali ini saya akan  menulis tentang Bakpacker Yogyakarta  4D 3N.
Jika ada yang bertanya kenapa Yogyakarta
lagi yang menjadi tujuan backpacker, selain karena Yogyakarta istimewa alasan utama saya adalah karena ajakan teman saya dan banyak tempat wisata di Yogyakarta yang belum saya kunjungi, hahaha.

Untuk Backpaker kali ini saya hanya berdua dengan teman saya, dan kebetulan teman saya pernah tinggal di Yogyakarta selama 4 tahun, jadi kalau hanya berkeliling di Kota Yogyakarta kami tidak membutuhkan Google maps dan GPS, tetapi karena tempat yang akan kami kunjungi lokasinya cukup jauh dari Kota Yogyakarta,  kami tetep membutuhkan bantuan Google Map dan GPS, hahaha.

Persiapan yang dilakukan sebelum keberangkatan pada Backpacker Yogyakarta 4D 3N ini  tidak jauh berbeda dengan Backpacker Yogyakarta (3D 2N) antara lain:

1. Tiket
Untuk transportasi, seperti pada Backpacker Yogyakarta (3D 2N) kami juga menggunakan kereta api, bedanya untuk Backpacker Yogyakarta (4D 3N) ini kami mendapatkan tiket kereta api eksekutif, jadi harganya sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan kereta api ekonomi,tetapi lebih murah jika dibandingkan dengan pesawa, hehe

        Kereta                     Keberangkatan        Kedatangan                          Harga

       Argo Lawu                        20.15                   03.48                           Rp. 380.000,- 
( Gambir - Jakarta)                                

    Taksaka Malam                    20.00                   03.42                           Rp. 290.000,- 
( Yogyakarta - Gambir)                                

2. Penginapan
Untuk Penginapan, kami mendapatkan hotel di daerah Poncowinatan, tepatnya di belakang Tugu Yogyakarta. Kami membooking hotel untuk 3 hari ( terhitung check in  : sabtu siang, check out: selasa pagi). Fasilitas yang kami dapatkan antara lain 2 single bed, breakfast, AC,TV dan kamar mandi dalam. Biaya hotel selama 3 hari sebesar Rp. 726.500,-. Sebenarnya kereta kami tiba di Yogyakarta pada sabtu pagi sekitar pukul 04.00 wib, dan kami sebetulnya membutuhkan tambahan kamar untuk istirahat, karena kami baru bisa check in hotel pada pukul 14.00 wib, kami memutuskan untuk menambah kamar melalui walk in, dan kamar tambahan ini harganya lebih murah dibandingkan dengan kamar yang kami pesan secara online dengan fasilitas yang berbeda pula tentunya. Harga kamar yang kami pesan melalui walk in sebesar Rp. 150.000,-  dengan fasilitas 2 single bad, TV, kipas angin, dan kamar mandi dalam.

3. Itinerary

Itinerary Backpacker Yogyakarta (4D 3N) berbeda dengan itinerary Backpacker Yogyakarta (3D 2N), tempat yang kami kunjungi  lokasinya terbilang cukup jauh dari Kota Yogyakarta, jaraknya mencapai 10 - 50 km. 

Hari 1
Jam 
08.00 - 09.00        : sarapan
09.00 - 10.30        : perjalanan ke kedung pendut
10.30 - 12.00        : eksplore kedung pendut
12.00 - 12.30        : perjalanan ke Kalibiru
12.30 - 13.30        : ishoma
16.30 - 18.00        : kembali ke hotel
18.00 - 19.00        : istirahat
19.00 - selesai      : makan malam, acara bebas


Hari 2
07.00 - 08.00         : sarapan 
08.00 - 10.00         : perjalanan menuju UII
11.00 - 12.30         : kondangan
12.30 - 13.30         : ishoma
13.30 - 14.00         : perjalanan ke Candi Ratu Boko
14.00 - 16.30         : eksplore Candi Ratu Boko
16.30 - 17.00         : perjalanan menuju tebing breksi
17.00 - 18.00         : eksplore Tebing Breksi
18.00 - 19.00         : perjalanan kembali ke hotel
19.00 - 20.00         : istirahat
20.00 - selesai       : makan malam, acara bebas


Hari 3
07.00 - 08.00         : sarapan 
08.00 - 09.30         : perjalanan menuju Goa Cerme
09.30 - 12.00         : eksplore goa cerme
12.00 - 13.00         : ishoma
13.00 - 14.00         : perjalanan menuju Gemuk Pasir
14.00 - 15.00         : eksplore Gemuk Pasir
15.30 - 16.00         : perjalanan menuju Pantai Goa Cemara
16.00 - 17.00         : eksplore Pantai Goa Cemara
17.00 - 18.30         : perjalanan kembali ke hotel
18.30 - 19.30         : istirahat
19.30 - selesai       : makan malam, acara bebas


Hari 4
07.00 - 08.00         : sarapan 
08.00 - 08.45         : perjalanan menuju Karst Tubing Sedayu
08.45 - 13.00         : eksplore Karst Tubing Sedayu
13.00 - 14.00         : ishoma
14.00 - 15.00         : perjalanan menuju hotel, check out
15.00 - 17.00         : istirahat
17.00 - 17.30         : perjalanan menuju Stasiun
20.00 - selesai       : perjalanan kembali ke Jakarta

Itinerary dapat berubah sewaktu - waktu menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan.

4. Kendaraan
Kami menyewa motor mulai dari Sabtu pagi jam 08.00 wib dan berakhir pada selasa sore jam 17.00 wib yang terhitung 4 hari, biaya perhari Rp. 70.000,- sehingga biaya untuk sewa motor sebesar Rp. 280.000,-  included 2 helm dan 2 jas hujan dengan syarat peminjaman memberikan jaminan 2 kartu identitas.
      

Hari Pertama ( Sabtu)

Kereta api yang kami naiki berangkat dari Jakarta pada Jum'at malam jam 20.30 wib, perjalanan menuju Yogyakarta kurang lebih sekitar 8 jam dan kami tiba di Yogyakarta pada hari Sabtu pagi sekitar jam 04.00 wib. Dari stasiun kami langsung menuju ke hotel menggunakan taksi online. Seperti yang dijelaskan di atas, kami memesan kamar tambahan melalui walk in karena kami butuh istirahat sebelum melakukan perjalanan, hehe.

Sekitar jam 10.00 wib, setelah istirahat dan motor sudah diantar ke hotel, kami akan memulai perjalanan, untuk perjalanan di hari pertama seharusnya kami menuju ke Kedung Pendut dan Kalibiru, tetapi kami merubah jadwal dengan menggunakan jadwal di hari ketiga, jadinya kami akan mengunjungi tempat wisata yang ada di daerah Imogiri. Untuk tempat wisata pertama yang kami kunjungi di daerah Imogiri adalah Goa Cerme.

Goa Cerme            

Goa Cerme terletak di Pegunungan Sewu yang merupakan kawasan karst. Mulut Goa Cerme secara administratif terletak di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, sedangkan badan goa terletak di Tebing Bukit Seribu yang menjadi batas administratif Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul. Mulut Goa di ujung lain terdapat di Dusun Ploso, Desa Giritirto Kecamatan Panggang Kabupaten Gunung Kidul. Melihat potensinya Goa Cerme merupakan wilayah yang atraktif yang dapat dikembangkan terutama untuk kegiatan pariwisata.

Jarak dari hotel menuju Goa Cerme sekitar 25 km dan membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, ini belum termasuk kalau misalnya nyasar-nyasar lo ya, hehe. Tetapi untungnya dengan bantuan Google Map dan Gps kami tidak nyasar, hehe. Selama perjalanan kami menyempatkan untuk sarapan di daerah Wonogiri karena kamar tambahan kami tidak termasuk breakfast, haha.

Perjalanan menuju Goa Cerme cukup terjal dan menanjak, sehingga diperlukan kewaspadaan dalam berkendara, dan untungnya kami bisa sampai dengan tujuan dengan selamat, hehe.


Goa Cerme  masih kalah pamor jika dibandingkan dengan wisata goa - goa lain yang ada di Yogyakarta, seperti Goa Pindul ataupun Goa Jomblang. Saat tiba di Goa Cerme, kami agak sedikit ragu karena tempat wisata ini tergolong sepi untuk ukuran tempat wisata dan hanya kami berdua pengunjung saat itu, hehe. Tiket masuk Goa Cerme sebesar Rp 3.000,- sedangkan untuk jasa pemandu dikenakan biaya sebesar Rp. 60.000,-. Biaya jasa pemandu cukup mahal jika hanya dibagi kami berdua, untungnya tak berapa lama kemudian ada 3 orang mahasiswa yang juga mengunjungi goa ini, dan akhirnya kami berlima sepakat untuk membagi biaya jasa pemandu (kan lumayan, ngirit, haha).  Untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke goa ini sebaiknya menggunakan jasa pemandu mengingat pemandu yang sudah hafal dengan kondisi dan karakteristik goa yang gelap dengan kedalaman air sekitar 1 - 1,5 m. Dan jika ingin mengabadikan moment selama menyusuri goa gunakanlah kamera underwater mengingat kondisi goa yang licin,   ditakutkan jika kurang berhati - hati kamera yang dibawa bisa jatuh ke dalam air ( pengalaman dari salah satu teman kami yang hp nya sempat terjatuh ke dalam air akibat terpeleset, hihi)


Walaupun tergolong sepi, petualangan menyusuri Goa Cerme cukup seru dan menyenangkan serta layak dicoba bagi yang berjiwa adventure. Selanjutnya sekitar jam 15.00 wib, kami melanjutkan perjalanan menuju Gumuk Pasir Parangkusumo.

Gumuk Pasir Parangkusumo

Gumul Pasir Parangkusumo terletak di Jalan Pantai Parangkusumo, Grogol, Kretek, Parangtritis, Bantul. Jarak Goa Cerme menuju Gumuk Pasir Parangkusumo sekitar 12 km dan membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. 

Menurut Pakar Geologi dari Universitas Pembangunan Nasional, Gumuk Pasir terbentuk dari sisa material Gunung Merapi yang sampai pantai selatan dalam kondisi kering, kemudian berkumpul dan membentuk layaknya bukit pasir.

Ketika memasuki area gumuk pasir, kami agak kebingungan mencari lokasi gumuk pasir Parangkusumo, padahal menurut google maps kami sudah berada di lokasi yang tepat, tetapi kami hanya menemukan gumuk pasir Parangtritis dan gumuk pasir Barchan. Setelah bertanya kepada penduduk sekitar barulah kami mengetahui jika gumuk pasir Parangkusumo itu disebut sebagai gumuk pasir Barchan, hahaha. 

Untuk mengunjungi gumuk pasir ini kami hanya dikenakan biaya parkir motor sebesar Rp. 3.000,-. Waktu yang tepat untuk mengunjungi gumuk pasir adalah ketika sore hari saat matahari mulai tenggelam ( saat cuaca tidak terlalu panas).   Spot - spot instragramable dan sandboarding menjadi daya tarik tersendiri bagi tempat wisata ini, dan tempat ini pun bisa dijadikan sebagai lokasi untuk Pre Wedding.




Selanjutnya sekitar jam 16.30 wib kami melanjutkan perjalanan menuju  Pantai  Cemara Sewu yang hanya berjarak 1 km dari lokasi gumuk pasir Parangkusumo.

Pantai  Cemara Sewu

Pantai Cemara Sewu terletak di dusun Patehan, Desa Gandingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Sesuai dengan namanya, pantai ini menyuguhkan keindahan ribuan pohon cemera, inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari Pantai Cemara Sewu dan inilah yang menjadi alasan kenapa kami mengunjungi Pantai ini. Pantai Cemara Sewu masih kalah pamor jika dibandingkan dengan Pantai Parangtritis, tidak banyak pengunjung yang kami temui di Pantai ini (apa karena sudah sore kali ya, hehe). Untuk memasuki pantai ini, kami hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 3.000,-.



Setelah puas berfoto dengan background ribuan pohon cemara, selanjutnya sekitar jam 17.00 wib kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Kedua (Minggu)

Di hari kedua ini, Kota Yogyakarta diguyur hujan sejak pagi hari dan menyebabkan jadwal kami agak sedikit molor. Sekitar jam 11.00 wib ketika hujan mulai reda, kami meninggalkan hotel untuk berangkat menuju UII, tujuan kami ke UII adalah untuk menghadiri acara pernikahan (lumayan dapat makan siang gratis, hehe). Pada jam 13.30 kami melanjutkan perjalanan ke Kalibiru, sebenarnya pada itinerary yang telah dibuat, jadwal kami setelah dari UII adalah mengunjungi Keraton Ratu Boko dan Tebing Breksi karena letaknya yang berada di daerah Sleman, tetapi karena teman saya mengajak untuk ke Kalibiru dan yang menyetir motor adalah teman saya (saya hanya pembaca google maps, haha), jadi diputuskanlah tempat yang akan kami kunjungi adalah kalibiru ( padahal jarak dari UII ke Kalibiru sekitar  50 km,  tapi teman saya sanggup menyetir  dengan jarak sejauh itu, luar biasa sekali, hihihi)

Kalibiru

Kalibiru merupakan salah satu objek wisata alam yang terletak di Kabupaten Kulon Progo. Tempat wisata ini memiliki tanah bergelombang dan dominan oleh perbukitan dalam area hutan lindung. Jalan menuju Kalibiru cukup berliku dan menanjak, dan karena jalanannya yang cukup sempit diperlukan kewaspadaan saat berkendara terutama bagi yang membawa kendaraan roda empat. Butuh waktu sekitar 1 - 1,5 jam bagi kami untuk bisa tiba di tempat wisata ini.

Sesampainya di parkiran motor, kami harus berjalan lagi ke atas untuk menuju lokasi wisata, tetapi karena kami malas berjalan, kami memutuskan untuk naik ojek, hehehe ( sebenarnya jarak dari tempat parkir menuju lokasi wisata tidak terlalu jauh tetapi jalanannya cukup menanjak, dan inilah yang membuat kami memutuskan untuk naik ojek). Tiket masuk ke Kalibiru Rp. 10.000, -, itu hanya tiket masuk nya saja, dan jika ingin berfoto di spot-spot yang intragramable dikenakan biaya tambahan. Berhubung kami sampainya agak sore sekitar jam 14.30 wib , spot - spot untuk berfotopun sudah ditutup, dan kami akhirnya memilih paket flying fox dengan biaya sebesar Rp. 35. 000,- . Jika ingin mengabadikan moment selama flying fox/berada di spot-spot foto, pihak Kalibiru menyediakan jasa layanan foto, tentunya dengan biaya tambahan pula pastinya, hehe. Jadi biaya yang harus dikeluarkan jika ingin mengunjungi wisata Kalibiru adalah tiket masuk + biaya spot foto/flying fox + biaya jasa layanan foto. 





    
Sekitar jam 17.00 wib kami melanjutkan perjalanan menuju Tebing Breksi, dan lokasi Tebing Breksi berada di daerah Sleman dekat dengan UII, jadi ini ceritanya kami kembali lagi, hahaha. Dan alasan kenapa kami menuju Tebing Breksi menjelang malam hari adalah karena berdasarkan informasi dari internet Tebing Breksi akan terlihat lebih indah pada saat malam hari.

Tebing Breksi

Tebing Breksi terletak di Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman. Tebing Breksi adalah hasil singkapan batuan endapan abu vulkanik dari erupsi gunung api purba yang membentuk morfologi bukit  dan dimanfaatkan untuk penambangan oleh masyarakat sekitar. Pada Tahun 2014 kegiatan penambangan ini ditutup oleh pemerintah setempat dan masyarakat menjadikan lokasi ini sebagai tempat wisata baru yang ada di Yogyakarta. 

Untuk menikmati keindahan Tebing Breksi kami hanya dikenakan biaya seiklasnya saja, tanpa ada patokan harga tertentu. Alangkah bahagianya jika seluruh objek wisata seperti ini, hahaha. Dan sesampainya di Tebing Breksi sekitar jam 18.30 wib, kami mendapatkan realita yang jauh berberda dengan ekspektasi yang dibayangkan, ternyata Tebing Breksi pada malam hari terlihat sangat gelap, dan tidak banyak foto yang bisa kami ambil, kami merasa tertipu dengan gambar yang ada di internet, hahaha.


Akhirnya, tak lama kemudian kami kembali ke hotel, haha. Dan besok kami berniat kembali lagi  saat sore hari, hehe.

Hari Ketiga (Senin)

Di hari ketiga, saya berkeliling sendiri karena teman saya ada urusan mendadak di Yogyakarta. Dan saya memutuskan untuk mengunjungi Candi Perambanan dan Situs Ratu Boko, setelahnya teman saya akan menjemput saya di Situs Ratu Boko dan kami akan menuju ke Tebing Breksi karena kami masih penasaran bagaimana kondisi Tebing Breksi di sore hari, haha. Untuk menuju ke Candi Perambanan, saya menggunakan transjogja, sementara motor dibawa  teman saya ( sebenernya sih saya gak punya sim dan saya juga gak terlalu pandai naik motor, makanya saya memilih naik transjogja, hehe). Sekitar jam 10.00 wib saya menuju ke halte transjogja, untuk menuju halte saya hanya tinggal berjalan kaki karena jaraknya yang cukup dengan dengan hotel. Dengan harga tiket Rp. 3.500 dan waktu sekitar 1 jam perjalanan saya sudah tiba di halte Prambanan. Tetapi untuk menuju candi saya masih harus berjalan lagi kurang lebih sejauh 1 km.

Candi Prambanan

Candi Prambanan atau dikenal juga sebagai Candi Roro Jonggrang adalah kompleks Candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke -9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Untuk harga tiket terdapat beberapa pilihan paket, diantaranya : 1) komplek candi prambanan, 2) paket candi prambanan & keraton ratu boko, 3) paket wisata candi prambanan, plaosan & sojiwan, saya sendiri memilih paket Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko dengan harga tiket sebesar Rp. 50.000,-  dengan fasilitas transportasi gratis PP. Dan alasan kenapa saya memilih paket ini adalah karena sebenarnya saya penasaran dengan Keraton Ratu Boko yang pernah di jadikan lokasi syuting filmnya mas Rangga dan mbak Cinta, hehe.



Karena bertepatan dengan hari raya nyepi dan long weekend, komplek candi Prambanan cukup ramai dengan banyaknya pengunjung yang berwisata.  Berhubung saya sendirian, saya agak kesulitan dalam pengambilan foto, haha, sampai akhirnya saya bertemu dengan pasangan yang berbaik hati bersedia memfotokan saya (kami saling bergantian memfoto, hehe), dan pasangan tersebut juga mengajak saya berkeliling bersama  karena  mereka kasihan melihat saya yang jalan sendirian, haha, dan jelas tawaran tersebut saya tolak, hehe. Setelah berhasil mendapatkan beberapa di  sini, sekitar jam 13.00 wib saya melanjutkan perjalanan menuju Situs Ratu Boko dengan menggunakan transportasi yang sudah disediakan oleh pihak Prambanan.




Situs Ratu Boko

Situs Ratu Boko terletak di atas perbukitan Boko dengan ketinggian 195,97 m di atas permukaan laut dengan luas sekitar 160.898 m2. Situs Ratu Boko merupakan peninggalan sejarah yang bercorak Hinduisme dan Budhisme, situs ini adalah sebuah kompleks wihara sebagaimana tercatat dalam prasasti Abhayagiriwara yang berangka tahun 792 M. Tinggalan arkeologi yang bersifat Budhisme lainnya yaitu reruntuhan stupa, arca, Dhayani Buddha stupika.

Sekitar Tahun 856 M, situs ini berubah menjadi kediaman seorang penguasa bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang beragama Hindu. Temuan Arkeologi berupa prasasti yaitu Ratu Boko a,b (berangka tahun 856) dan c semua mengandung keterangan tentang pendirian lingga yaitu Lingga Krtivaso, Lingga Tryambaka dan Lingga Hara. Prasasti lain yang ditemukan yaitu prasasti Pereng (862 M) mengandung keterangan pendirian sebuah bangunan suci untuk dewaSiwa yaitu candi Badraloka. Adapun tinggalan arkeologi lainnya yang bersifat hinduisme adalah arca Durga, Ganesa, miniatur candi, yoni, dan prasasti dari lempeng emas

Tidak banyak yang saya lakukan di sini selain berfoto - foto dan berkeliling untuk menghilangkan rasa penasaran saya terhadap situs ini. Jika dibandingkan dengan Candi Prambanan, Situs Ratu Boko masih kalah poluler, tetapi dengan dijadikannya situs ini sebagai lokasi syuting  film, menjadikan situs Ratu Boko mulai dikenal oleh wisatawan.





Sekitar jam 16.00 wib, teman saya datang menjemput di Ratu Boko dan kami selanjutnya menuju Tebing Breksi.

Tebing Breksi

Jarak Tebing Breksi dari Situs Ratu Boko hanya sekitar 4,6 km dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit. Suasana Tebing Breksi pada sore hari jelas berbeda jauh dengan suasana pada malam hari, haha. Walaupun tergolong tempat wisata baru, pengunjung Tebing breksi cukup banyak dan tempat ini juga bisa dijadikan sebagai lokasi Pre Wedding.  Waktu yang tepat untuk mengunjungi Tebing Breksi adalah saat sore hari di mana kita dapat menikmati sunset.


Sebenarnya masih banyak tempat wisata di dekat Tebing Breksi yang bisa dikunjungi seperti Candi Ijo, Candi Kalasan, dst, tetapi mengingat suasana yang sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk kembali ke Hotel.

Hari Keempat (Selasa)

Di hari terakhir kami di Yogyakarta, kami hanya mengunjungi satu tempat wisata saja, yaitu Karst Tubing Sedayu. Sekitar jam 10.00 wib kami check out (tetapi menitipkan barang di hotel yang akan diambil sebelum menuju stasiun) dan kami melakukan perjalanan menuju Karst Tubing Sedayu. Karst Tubing Sedayu berada di Jalan Wates KM. 9,5 dengan jarak dari hotel sekitar 12 km dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit.  Pada jam 10.30 wib  kami sudah tiba di Karst Tubing Sedayu.

Karst Tubing Sedayu

Karst Tubing Sedayu merupakan wisata susur sungai Konteng dengan menggunakan ban sejauh 1 km. Terdapat dua pilihan track dalam tubing ini, antara lain :1) Track I dengan panjang lintasan 0,9 km atau sekitar 30 menit dengan arus normal, dan 2) Track 2 dengan panjang lintasan 1,4 km atau sekitar 45 menit dalam arus normal.

Untuk pilihan Track, kami memilih track 2 dengan tiket masuk sebesar Rp. 50.000,- , harga tersebut included : minum & snack, asuransi, jasa pemandu serta perlengkapan keselamatan yang meliputi helm, pelampung dan sepatu pelindung. Jika pengunjung ingin mengabadikan moment selama tubing, pengunjung dapat memesan jasa layanan foto dan perekam video dengan mengeluarkan biaya tambahan tentunya, hehe. Dan karena kami hanya berdua kami tidak menggunakan jasa layanan tersebut, haha.

Untuk bisa memulai tubing, kami harus menunggu antrian sekitar 1 jam an. Kegiatan tubing ini akan menjadi lebih seru jika dilakukan secara ramai - ramai, dan sayangnya kami hanya datang berdua, hehe. Dan ternyata banyak juga yang datang berdua, tapi mereka kebanyakan adalah pasangan kekasih, haha.





Setelah selesai tubing, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Yogyakarta dengan tujuan mencari makan siang dan membeli oleh - oleh, setelahnya kami kembali ke Hotel untuk mengambil barang - barang dan dilanjutkan  menuju stasiun untuk melakukan perjalanan kembali ke Jakarta.

Total Pengeluaran

Tiket Kereta PP                                               = Rp. 670.000,-
Sewa Motor                                                     = Rp. 280.000,-/2org    = Rp. 140.000,-
Hotel                                                              = Rp. 726.500,-/2org    = Rp. 363.250,-
Hotel Tambahan Semalam                               = Rp. 150.000,-/2org    = Rp.  75.000,-
Tansport ke hotel                                            = Rp.    18.000,-/2org  = Rp.    9.000,-
Parkir Stasiun                                                  = Rp.      5.000,-/2org  = Rp.    2.500,-


Hari 1
Bensin                                                            = Rp.   24.000,-/2org    = Rp.   12.000,-
Isi Nitrogen                                                     = Rp.  10.000,-/2org     = Rp.     5.000,-
Sarapan                                                         = Rp.   13.500,-/2org     = Rp.     6.750,-
Parkir Goa Cerme                                          = Rp.     3.000,- /2org    = Rp.     1.500,-
Tiket masuk Goa Cerme                                 = Rp.     3.000,-             
Pemandu Goa Cerme                                     = Rp.    30.000,-/2org    = Rp.     15.000,-
Retribusi kawasan wisata Parangtritis            = Rp.    10.000,-/2org     = Rp.       5.000,-
Parkir Gumuk Pasir Parangkusumo                 = Rp.      3.000,-/2org     = Rp.       1.500,-
Parkir Pantai Cemara Sewu                           = Rp.     3.000,-/2org      = Rp.       1.500,-
Makan Sate Klatak                                        = Rp.    54.000,-/2org     = Rp.     27.000,-
Parkir Sate Klatak                                         = Rp.       2.000,-/2org    = Rp.       1.000,-

Hari ke 2
Bensin                                                           = Rp.    15.000,-/2org     = Rp.       7.500,-
Parkir kalibiru                                                = Rp.     2.000,-/2org     = Rp.        1.000,-
Ojek kalibiru                                                  = Rp.     5.000,-            
Tiket masuk Kalibiru                                      = Rp.    10.000,-           
Flying fox Kalibiru                                          = Rp.    35.000,-             
Foto Kalibiru                                                  = Rp.    70.000,-/2org    = Rp.     35.000,-
Masuk Tebing Breksi                                       = Rp.      7.000,-/2org    = Rp.       3.500,-
Makan malam                                                 = Rp.   30.000,-            
Bensin                                                            = Rp.   15.000,/2org      = Rp.       7.500,-    

Hari Ke 3
Transjogja                                                      = Rp.     3.500,-           
Tiket masuk Candi Prambanan dan Ratu Boko  = Rp.    50.000,-      
Masuk Tebing Breksi                                       = Rp.    10.000,-/2org      = Rp.      5.000,-
Makan Malam                                                 = Rp.    47.500,-/2org      = Rp.    23.750,-
Bensin                                                           = Rp.    15.000,-/2org       = Rp.     7.500,-
Isi Nitrogen                                                    = Rp.     6.000,-/2org       = Rp.     3.000,-

Hari ke 4
Tiket Karst Tubing Sedayu                             = Rp. 50.000,-



Total Pengeluaran  sebesar Rp. 1.616.250,-

Total pengeluaran  diatas belum termasuk dengan oleh - oleh, hehe. Biaya pengeluaran tersebut dapat dipangkas dengan mengurangi budget untuk kereta dan hotel dengan cara menggunakan kereta api ekonomi dan mencari penginapan yang harganya lebih murah  atau bahkan gratis (menginap di rumah saudara/teman/kenalan, hehe).

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        

Komentar